Friday, July 19, 2013

CERITA TENTANG JEMBER - KIKI GOES TO CAMPUS



Kiki goes to campus -------- Ini tulisan tentang perjalanan kami ke Jember, perjalananku dan Kiki, mengantar Kiki ke kampus dan tempat tinggalnya yang baru, at least for the next 4 years, my little princess sudah mahasiswa. Oh God, time really flies.


Setelah diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat - Universitas Jember melalui jalur SBMPTN, kami harus melakukan verifikasi ke kampus untuk menentukan berapa uang kuliah per semester yang harus kami bayar melalui sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal). Setelah cek jadwal verifikasi dan memenuhi kelengkapan dokumen yang diminta, kami mulai mencari sarana transportasi dan hotel, yang tentunya nyaman namun dengan harga terjangkau.

Perjalanan dimulai dengan mencari reference transport dan hotel berharga terjangkau dan berlokasi bagus, terutama dekat kampus Universitas Jember, mengingat kami belum pernah ke Jember dan hanya tahu Jember dari cerita teman dan internet, maka kami putuskan untuk kesana naik travel, supaya bisa diantar sampai alamat hotel tujuan. Puji Tuhan, travel yang kami tumpangi cukup bagus, mobilnya well maintained, pengemudinya sopan dan helpful, serta perjalanan kami cukup nyaman sampai tujuan.

Hotel yang kami tuju adalah hotel bintang 3*** di tengah kota, hanya berjarak 10 menit dengan mobil ke kampus Universitas Jember. Hotel ini bersih dan nyaman, pelayanannya ramah dan professional, fasilitas di kamar di maintained dengan baik, demikian juga ambience diluar kamar, outdoor area yang teduh, bersih dan nyaman. {Hal ini mengobati rasa kecewa kami dengan salah satu hotel di Malang di daerah Gajayana, yang kami tempati waktu Kiki test SBMPTN, dimana hotelnya sangat kotor dengan kualitas pelayanan selevel rumah singgah, sementara harga yang kami bayarkan sama dengan harga hotel yang di Jember ini}.

Perjalanan di dalam kota dari hotel ke kampus vice versa kami tempuh dengan taxi, hanya ada 2 armada taxi di Jember : Jember taxi dan Perdana Taxi. Taxi taxi nya tidak sebagus di Surabaya, kondisi mobil rata-rata tidak terawat, mobil – mobil tahun 90 kebawah, pengemudi nya tidak well mannered, kurang sopan dan curang (nakalan). Mereka selalu mencari kesempatan untuk menarik tarif tinggi tanpa argo (harga borongan), ada yang tetap menyalakan argo namun minta tambahan bayaran dari harga yang sudah tercantum di argo, entah 30% atau bahkan sampai 40%, alasannya macam – macam, mulai dari karena harga BBM naik sampai alas an bahwa argo belum di tera ulang, it doesn’t make any sense.

Tapi itulah kondisi per”taxi”an di Jember, mengeluhkan (complain) ke operator pun percuma, karena sepertinya perusahaan taxi (operator) hanya sebagai “penerima & penyalur order per telpon” dan tidak bertanggung jawab atas tindakan pengemudi di lapangan, keluhan tidak ditanggapi dengan professional, ada operator yang hanya menjawab dengan “tidak tahu” atas setiap keluhan (hufft, tarik nafas panjang!, perlu kesabaran extra). Belajar dari hal ini, mintalah selalu kepada pengemudi utk pasang argo, atau kalau dia ngotot minta harga borongan, tetapkan di awal dengan jelas dan tegas kemana saja tujuan kita, apakah akan diminta menunggu atau tidak, dan berapa harga borongannya tanpa tambahan persen ini dan itu. Jangan buka celah atau kesempatan untuk pengemudi itu mencurangi kita. Jujur saja, bukan soal berapa uangnya, tetapi menghandle rasa kecewa dan amarah yg tidak tersalurkan ini yang melelahkan, ha ha ha ha aaaa …….

Kami datang pagi-pagi ke Gedung Soetardjo Universitas Jember bahkan sebelum pintu gedung ini dibuka. Tepat jam 8 pintu utama dibuka dan hanya orang tua calon mahasiswa yang di-ijinkan masuk. Didalam gedung ini sudah dibagi tiap section dengan tanda tulisan fakultas masing – masing sesuai denah yang ditempel di depan pintu masuk.

Setelah duduk di deretan kursi di bawah tanda bertuliskan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Petugas verfikasi datang dan mulai memanggil setiap orang tua mahasiswa sesuai urutan duduknya. Petugas dari Universitas Jember yang mirip Peppy  (Peppy, the explorer), ini sangat sabar dan telaten menjelaskan tiap hal yang harus di verifikasi kepada setiap orang tua mahasiswa, intinya apa yang di cantumkan mahasiswa ketika mendaftar SBMPTN online harus cocok dengan data / dokumen yang kita serahkan. All and all, verifikasi berjalan lancar.

Sebenarnya kami akan langsung kembali ke Surabaya pada jam 3 sore karena kami rencakan hanya akanmenginap semalam dan belum akan mencari kost hari itu, tetapi tiba – tiba petugas dari travel yang sudah kami pesan utk sore itu menelpon dan mengatakan bahwa mobil akan mengantar kami ke Surabaya dengan kondisi tanpa AC, karena kerusakan mendadak. Wow, perjalanan yang perlu waktu lebih dari 4 jam tanpa AC? No way. Akhirnya kami putuskan utk membatalkan dan reserve ke travel lain yang berangkat jam 10 malam, dengan kondisi hotel harus kami extend hingga jam kami dijemput travel dan kami manfaatkan waktu utk mencari kost (harus dapat kost) hari itu.

Setelah cek lokasi fakultas dan memperkirakan lokasi kost ideal yang “walking distance” dari dan ke kampus, again, puji Tuhan, kami dapatkan tempat kost tepat di depan kampus Universitas Jember, Ibu kost nya friendly dan care, tempat kost nya bersih dan lengkap, memberlakukan jam malam, yang terus terang saja untuk seorang Ibu seperti saya akan merasa aman karena anak saya tidak akan keluyuran bebas, dan tetap ter-awasi.

Tidak lupa cerita tentang kuliner di Jember, well, tidak ada yang di-klaim sebagai masakan khas Jember, semua sama seperti di Surabaya, hanya Prol Tape dan Dodol Suwar-suwir yang menjadi oleh-oleh khas dari Jember. Tidak ada mall besar disini, dalam arti mall seperti yang di Surabaya, yang disebut terbesar pun lebih seperti pusat perbelanjaan grosir, jadi mall bukan amusement point disini, yang disebut food court pun hanya ada tidak lebih dari 3 food stalls dengan menu standard yang very common.

Jember sangat dikenal dengan Jember Fashion Carnaval nya. Ini upaya pemerintah memajukan sektor wisata di Jember, dan tentu saja BBJ - "Bulan Berkunjung Jember". Saya membayangkan ketika itu semua didukung dg layanan publik yang professional, sumber daya manusia yang ditajamkan kesadaran tourism business-nya, kota yang tidak lagi semrawut, kesopanan ber-lalu lintas yang ditingkatkan, aah …. Perfect!

Jember tidak begitu besar, kesan secara keseluruhan atas kota ini : semrawut, penataan kota masih acakadul, ada beberapa tempat yg di-klaim sebagai down town, namun selain deretan toko – toko kuno juga ada perkantoran di situ, pun perumahan warga, bahkan sekolahan. Yeah, Kediri (kota asal saya) masih jauh lebih bersih, modern dan rapi. Iklim di Jember cukup hangat, means panas banget di siang hari dan sangat dingin ketika malam tiba. Warga nya kebanyakan berbahasa Jawa ‘ngoko’ atau Bahasa Madura.

Kami kembali ke Surabaya malam itu dengan banyak sekali cerita dan kesan tentang Jember, serta pengalaman dengan orang – orang yang kami temui selama kami tinggal, Jember …. dimana Kiki akan kuliah dan tinggal disini selama beberapa tahun ke depan.

Itu cerita perjalanan kami, dan kami kembali seminggu kemudian untuk registrasi ke kampus dan belanja perlengkapan kost Kiki. Kami kembali ke hotel yang sama, masih sama menyenangkan nya seperti ketika kami tinggal disini minggu lalu. Kami naik taxi dari hotel – kampus vice versa, dan masih mengalami hal yang tidak menyenangkan sehubungan dengan per”taxi”an di Jember, ha ha ha haaa …… atau karena saya seorang hotelier dan jadi terlalu “demanding” akan semua service yg sempurna. Ah, ngga juga! Bukankah sebagai penjual jasa transportasi mereka juga harus deliver their service in professional manners?

By the way, saya menyadari ada yang tidak bisa kita ubah, atau tidak seperti yang saya inginkan, tapi saya janji pada diri sendiri ketika nanti menemui hal – hal yang tidak menyenangkan lagi, atau yang low standard, saya akan lebih sabar, dan tetap in joy and at peace with it.

Sekarang saya sedang menikmati legitnya Prol Tape Jember, This is one of the good things of Jember, sambil melepaskan amarah dan kekesalan pergi dari hati, menuliskan ini membebaskan jiwa saya ….. happy reading!

MARRIAGE IS A DAILY LIFE

Before I continue writing, forgive me for the title of this post that may sounds like it understates the meaning of marriage. NO! It is not ...