Saturday, June 17, 2017

LOVE LOGICALLY

Jatuh cinta dengan seseorang bisa berujung manis jika perasaan itu bersambut. Tetapi di era sekarang ini, apalagi di kota besar, kepahitan karena ditolak itu bisa disebabkan bukan hanya karena ngga memiliki perasaan suka yang sama, tetapi …

Saya punya seorang teman dekat yang bekerja di sebuah hotel bintang lima international di Jakarta. Usianya sudah dewasa, posisinya cukup tinggi, sebagai seorang executive commitee. Saya ngga tahu musti kasihan atau kasih sedikit masukan dalam urusan hati, tapi dia sering sekali salah jatuh cinta. Saya ingat beberapa tahun lalu dia bilang suka dengan beberapa laki-laki. Usut punya usut, semua laki-laki yang dia sukai itu penyuka sesama jenis.

“Aku ngga tahu mereka gay, mereka kelihatan straight banget,” kata teman saya itu, waktu beberapa teman lain mentertawakan kondisinya. Hmmm, ngga layak juga sih ditertawakan, karena yang pasti dia kemudian merasa bodoh. “Kamu ngga bodoh, kamu cuma ngga tahu aja,”  kata saya mencoba kasih pengertian dan simpati. Itu maksud saya. Kita ngga bisa milih untuk jatuh cinta dengan siapa. The heart wants  what it wants. 

Pesona seseorang biasanya emang jadi alasan pertama kita suka dengan mereka. Beberapa tahun lalu mungkin ‘ditolak' itu hanya berarti antara laki-laki dan perempuan (yang heteroseksual) maka jaman sekarang tautannya semakin rumit.  We can't resist someone's charm. Itu juga yang jadi alasan bagaimana kita bisa menyukai seseorang. Charm atau pesona itu bisa dalam bentuk apa aja, physical, attitude, behavior, sampai isi otak.

Sementara itu teman yang lain minta pendapat  saya tentang  mantannya yang juga dia duga adalah laki-laki homoseksual. Dia curhat betapa dia pengin agar laki-laki itu lebih baik mengakui semuanya. “Semua teman-teman gue yang gay udah confirm kalau dia memang gay, nah kok gue masih deny ya?” tanya teman saya itu (yang lebih tepatnya rhetorical question ke dirinya sendiri). “Kenapa gue susah banget percaya kalau dia gay?”

Bagi mereka yang lahir dari keluarga yang konservatif, menjadi homoseksual  sama seperti memiliki bom waktu dalam diri sendiri. Banyak yang akhirnya mengakui pada keluarganya bahwa mereka adalah penyuka sesama jenis dan berujung penolakan, sampai pengusiran. Dengan alasan takut atas penolakan, pengusiran, sampai ngga mau mengecewakan orang tua maka mereka lebih memilih untuk menyimpan semuanya selama bertahun-tahun. Beban yang hanya mereka rasakan sendiri (mungkin juga mereka bagikan ke teman-teman terdekat), and it's never been easy.

Menjadi gay atau homoseksual menurut penelitian bukanlah penyakit fisik maupun mental. Bukan pula fenomena atau anomali. Pro kontra akan keputusan sebagian orang untuk menerima dan hidup sebagai homoseksual ngga akan pernah selesai. Hal ini pula yang ‘memaksa' banyak kaum penyuka sesama jenis bertahan dengan identitas ‘normal' mereka dan mencari kemerdekaan sebagai homoseksual di momen-momen dan tempat khusus di mana mereka bebas menjadi diri mereka sendiri.

Di film “De Lovely” yang dibintangi oleh Kevin Kline dan Ashley Judd tema laki-laki gay yang memutuskan untuk menikah diceritakan dengan indah sekaligus sedih. Film yang diangkat dari kisah nyata Cole Porter, seorang pencipta lagu Amerika Serikat di era 1950an. Cole menikahi teman baiknya, Linda, yang sebenarnya tahu bahwa ia adalah laki-laki penyuka sesama jenis. Tapi perempuan itu mencoba menerima keadaan itu dan menjalani pernikahan mereka seperti biasa, karena Cole pun terlihat cukup serius ingin menjadi suaminya. Di akhir hayatnya Linda justru menugaskan seorang laki-laki muda untuk menjaga Cole setelah kepergiannya. Meski di era itu Cole juga menjalani kehidupan homoseksualnya di bawah radar lingkungan sosial tapi keadaan itu terus berjalan bahkan selama ia menikah dengan Linda.

Penerimaan yang dilakukan Linda hanya bisa dilakukan oleh sebagian orang. Yang dirasakan oleh Linda selama pernikahannya dengan Cole mungkin bukan cinta dalam arti sebenarnya. Film “De Lovely” menggambarkan pasangan Cole dan Linda sebagai dua orang yang menyayangi satu sama lain, melewati batas pemahaman identitas dan orientasi seksual. Cole adalah laki-laki dengan orientasi seksual yang tinggi pada sesama jenis, sementara pernikahan membuatnya kemudian melakukan hubungan seksual dengan istrinya, Linda.

Coming out, atau memberi tahu lingkungan kita bahwa kita memiliki orientasi seksual yang berbeda membutuhkan keberanian dan pemahaman akan risiko yang menyusul kemudian. Seperti yang saya paparkan sebelumnya, akhirnya banyak yang memilih untuk menjalani hidup ‘normal' dan mencari kebebasan menjadi diri sendiri di saat-saat tertentu saja.

Seorang teman saya, dia homoseksual, dan sudah terbuka dengan lingkungannya tentang orientasinya berpendapat laki-laki homoseksual yang menikah itu setiap hari makan hati. Kecewa karena dia ngga bisa mengaktualisasikan dirinya sendiri. Kecewa karena harus menikah dan berkeluarga (karena, menurut teman saya, kalau bisa mungkin laki-laki homoseksual juga lebih memilih untuk bersama laki-laki homoseksual). Semua kebebasannya dirampas.

But guess what, ngga sedikit kaum homoseksual yang menginginkan anak di tengah-tengah hubungan sesama jenis yang sedang mereka jalani. Barangkali ini yang membuat sebagian dari mereka cukup ‘berani' untuk menikah dengan benar-benar memiliki anak. Bukan dari proses adopsi. Mereka mencari kebahagiaan dari memiliki anak yang benar-benar lahir dari rahim seorang perempuan. Tapi juga menyimpan beban dengan pernikahan yang sebenarnya jauh dari pikiran mereka.

Semuanya memang masalah aktualisasi diri. Kebahagiaan yang kita cari kita yang tentukan. Hidup yang buat orang-orang tertentu sangat rumit, bagi kita mungkin sebenarnya cukup sederhana. Hidup yang sederhana mungkin artinya adalah mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya karena hanya itu satu-satunya cara untuk mengaktualisasikan diri. Tapi hidup sederhana mungkin juga berarti menjalani hidup sama seperti orang ‘normal' lainnya di luar sana, yang berarti malah menyembunyikan identitas kita sebenarnya, karena orang-orang ngga siap dengan perbedaan yang kita punya.

Ditolak karena dia ternyata juga menyukai laki-laki. Pahit? Mungkin. Konyol? Mungkin. Kamu ngga akan mendapatkan kepastian sampai kamu sendiri yakin bahwa dia sesuai pikiranmu, atau malah tidak. Want to keep on chasing pavement? Menjadi bimbang sendiri? Jangan sampai.

Tapi jika situasinya adalah sedang berada di sebuah pernikahan yang sedang mengalami kebimbangan, dan merasakan ada yang 'ngga biasa' dengan pasangan, make your move!. Ingin menjadi Linda yang bisa dan mau berusaha untuk menerima kekurangan pasanganmu, dan menjalani pernikahan seperti yang kalian cita-citakan bersama? Menghargai dia karena terlepas dari semua kekurangannya, karena dia adalah laki-laki yang sedang berusaha menjadi kepala keluarga yang baik?

Atau ambil jalan lain. Mengembalikan kesadaran kamu sepenuhnya bahwa sampai kapanpun pikirannya ngga akan sepenuhnya untuk kamu. Hidup dengan ketakutan karena kuatir suatu hari nanti dia akan meninggalkanmu, demi laki-laki lain. Terjebak memang ngga enak, apalagi dalam situasi seperti ini.

If you meet someone and you feel likely that you're going to fall for them? Find out who they are, think logic, and LOVE logically 



Tuesday, December 27, 2016

CHRISTMAS 2016





Christmas is not about the christmas tree, decorations or Santa Clause. They're only products for commercial in this materialistic world. 


Christmas is all about Jesus. HE was born, sent to the sinful world so that we can be saved. HE was born for you and me. That's the greatest love of all. Christmas is about love declaration of God to human being. Love which enables us to love, respect, care and support others

In HIS steadfast love, HE sent me this beautiful angel, Kiki, as the special gift to accompany me along the journey on this sometimes bumpy road called life. 

May the love, Joy and Peace poured abundantly upon you and your family

From us to you, Merry Christmas!

Thursday, November 17, 2016

ANOTHER YEAR TO GRATEFUL FOR

A birthday is always special to me. Its a day to celebrate ME and my entrance into the world. I always make sure to remember peoples' birthdays and to say something or give them a card. I like people to feel special and loved on their birthday. Wishing them some happiness and love today, on their special day.

When I was a child that event's special because I received lot of gifts but after and as an adult because I am around people that care about me and love me

On the top of that, I use it as a day to reflect on all of my many blessings and be grateful that I can celebrate.

My dear friends, I Thank you so much for the kind birthday wishes. You helped making it a very happy birthday. I don’t think of it as being another year older. I think of it as another year of having enjoyed friends like all of you. I deeply appreciate it . Thank you.... much much love!!

Thanks very much for the wonderful feelings you gave me on this special day and made it the most memorable birthday of my life. God bless you!!

Special notes to : Anung : thanks for lending me your vintage Vespa. It brings my memory back to the time when I was in Junior High School. Severin : thanks for the beautiful birthday cake, you know how to make me feel special. Lintang : thanks for taking me around the hotel with Vespa. Roberto : thanks for  making that cute overload pose. You never fails to crack me up 

My best wishes go to you as well!!













Saturday, September 10, 2016

I KNOW WHAT TO DO BUT I DON'T DO IT (II)

I was talking about knowing things to do but do not really want to do it in fact. I kind of promise that I will continue to talk about it, and  It’s a bit sad knowing that I posted that on March 3 2016, and I am now just typing to continue my writes

Ups! So long, in fact that’s too long for a write up. Sorry, I was just too busy on the work and (again. Sorry!) I was just too lazy. Aha!!

COMFORT, was one topic that I brought up as a cause why people don’t really do what they already knew they have to do. We are too afraid or too comfortable to leave our comfort zone. Change is good, but frankly speaking, its scary as well, too much worries

The second thing is GOAL. What about it?

I took a Mandarin class couple years back, it was just because in the city like Surabaya with huge Chinese community, ability of speaking Mandarin is a plus in person qualification. Its interesting , while in my daily work, speaking Mandarin is not needed at all, Mandarin proficiency is not much needed in the field I am into. So, long story short, I went through the course in full spirit in the first week, but when dealing with the difficulty of writing Mandarin letters (Chinese Pin Yin), I gave up.

Why? Because I do not have a clear goal of doing this thing. Clear goal or target is an energy we need to fight when dealing with struggles / barrier or obstacles. I could not find the important points of speaking Mandarin incorporated it to my daily work. I can only speak little bit in Mandarin just because of growing up in Chinese family. Well, to some people to sacrifice their time to learn something new is good, but to me in this kind of thing, especially in learning Mandarin, aaah, I just don’t like it. AHA! 

It leads me to the third thing I’m gonna talk about, PREFERENCE

I love to read and sing. Reading and singing are never boring to me, its always bring joy and cheerfulness. Find things you like, and get into it. By having it we can go on and on joyfully. I do not have to think whether or not they will be useful in work or daily life, I just like it, I love it.

We know we have to do things but do not want to do it well. Check those three items : COMFORT, GOAL, PREFERENCE

What about living a healthy life, go on a diet, do exercise? Those are all must do things. Get out of our comfort zone? Aaaah, big NO, fighting a battle of laziness, aaah no no no (Hey, this has already been my constant battle hahaaaa). We don’t want to loose the battle (of course), but how many time we fail, we know how the guilty feeling will ruin us. But the show must go on, life must be lived healthy and well


I make a peace of myself. I accept my self the way I am and forever thankful of this curvy body GOD has entrusted to me. I do what I like to do in align that with a healthy living style. I do walking, I eat what I like but I limit it, I sing and never stop practicing to strengthen my diaphragm muscle. I do it in a pleasant way, and I go on


Thursday, March 3, 2016

I KNOW WHAT TO DO BUT I DON'T DO IT

“Why don’t I do what I know I should do?” - Ever asked yourself that question?

Most of the time, we all know what we need to do things in order to attain our goals. That’s not the issue. We know what needs to be done. We just don’t do it. Why is it so hard to do what we must do to succeed, if we really want to succeed?

Perhaps we don’t want it THAT BAD?




That’s probably the case. We may tell ourselves we want to succeed, but if we cannot do whatever it may be to get there, then we don’t really desire it. We are not “hungry” enough. We want it, just not bad enough.

So what causes this?

COMFORT 

My mother always said, “Don’t be TOO comfortable, otherwise, you stop advancing”. It’s true. When we are in a position where we are comfortable & safe, it is extremely hard to get ourselves to move out of this “zone”. After all, it is human nature to seek comfort. Even if we may be looking at even more comfort with the added success, we are just not willing to give some of that current comfort to get there.

I have a friend who was looking into starting her own business. She had a great idea, good plans, and was pretty much ready to go. However, she needed to go at it full time. Therefore, she had to leave her current job, and she didn’t have a problem with that. The problem was, with the lack of money she would find herself with for the next year or so. You see, for her, she couldn’t give up her shopping, her nights out, her fancy suppers, etc. to fund her business. She was not willing to give part of her comfort to ultimately gain more later on. Yes, she wanted to do this business. She understood that in the long run, owning your own business is more beneficial than her current situation. However, she obviously did not want it bad enough. Because if she would have, she wouldn’t have a problem giving up some of her current perks to eventually gain much bigger ones.

Also, the fear of change & being stuck in a routine can destroy our motivation to move ahead. It’s like stepping into the unknown, and yes, we naturally do not like this. However, the quicker we understand that evolving is necessary for success, the easier it will be for us to get ourselves to do what we need to get done. Just know that we can adapt to any new situation. Humans are made to be this way. This is why we can live in very hot or very cold weather for example. We have a tremendous ability to adapt, so keeping that in mind eases the perception of change.



------to be continued-----

Sunday, January 10, 2016

HIGH SCHOOL SILVER REUNION 2015

25 years after my high school graduation, we are all invited to REUNI PERAK - SMAGA batch 1990 in Kediri, my hometown, last December. I and Kiki flew to Kediri and spent our Christmas and year end holidays, while I attended my high school reunion

We stayed at one of the hotels in the city, and I didn't visit my childhood house this time, just paid a visit to my parents grave

Well, whether we like it or not, we are all like to be connected to our teenage years in some way. High school friends bring that connection. When you reconnect with a high school friend it is like nothing has ever changed. It could be the “group” you belonged to, or that you saw each other literally for seven times a day, or the sports you played. With your high school friends you get back into the swing of things in a millisecond.














Saturday, January 9, 2016

OUR FLOWERY WEEKEND ESCAPADE

I wanna share our (what I called) flowery weekend escapade on the first week of December last year. It's a bit late post though but its too bad for not sharing the beauty of those flowers, or the beauty of us in these pictures, ha ha haaa just saying

It was happen when Kiki had her year end holiday and spent her time in Bandung and of course that this flower garden is so well known and become the hot topics of one of the sceneric photo spots, we have planned to go there

If life is a flower, then love is the beauty of that flower. Enjoy viewing and happy weekend!














Wednesday, August 19, 2015

HALLELUJAH

Hasil berselancar di Youtube membawa saya kepada klip film Shrek. (Just for your information, saya hanya suka nonton film yang realistic. Drama, true story or whatever that is related to daily life, bukan film “khayal”.  Science fiction atau film animasi atau film tokoh – tokoh Marvel sama sekali bukan film favorite saya, apalagi Shrek, kecuali Anda butuh teman menonton film film semacam itu, for the sake of friendship, saya akan bersedia duduk (mungkin tertidur) disamping Anda selama Anda nonton ha ha haaa …)


Klip tiba di bagian dimana putri Fiona mengepas baju pengantin dengan ekspresi wajah tertekan.  Adegan itu dilatari sebuah lagu yang dilantunkan dengan gaya sendu diseret-seret. Kegetiran putri Fiona bertambah menusuk dengan latar belakang lagu itu. Waktu itu saya ngga tahu liriknya. Bahasa Inggris saya ngga kelewat jelek juga sih, tapi ketika lagu itu dibawakan secara setengah menggumam, saya musti benar – benar pasang kuping dan menyimak, bahkan sempat membayangkan, vokalisnya menyanyi dengan sebatang cerutu digigit di antara geraham, yang saya tangkap hanya ada kata “Halleluya”


Naah, lagu inilah yang bikin saya “mendadak cinta” dan ingin saya share pemikiran saya tentang itu. Biasalah, kalau lagi suka banget dengan sesuatu saya pasti akan berusaha mencari tahu lebih dalam (alias kepo). Saya bukan penulis lagu, bukan musician plus ngga pernah belajar musik, dan ngga ngerti teori musik Saya hanya terbius oleh lagu ini dan menyanyikan-nya (mungkin) sudah ratusan kali (dikamar saya, tentunya)! Tapi jika Anda mau, saya akan dengan senang hati alias girang banget menyanyikan lagu ini utk Anda. Percayalah, suara saya ngga jelek jelek amat. Jadi, apa yang saya tulis disini adalah hasil penelusuran saya plus penalaran a la kadarnya ditambah daya khayal saya yang kadang agak kebablasan … ha ha haaaa


Saya terdorong untuk mencari si soundtrack dan informasinya karena beberapa hari kemudian, lagu itu “mendadak dangdut” berdendang-dendang sendiri di kepala saya. Dan seperti biasa, setelah menyimak (puluhan kali) di Youtube, saya search di Wikipedia yang tentu saja “memuntahkan” informasi yang cukup lengkap ditambah beberapa blog yang berkontribusi hingga saya mendapat informasi (hampir lengkap) tentang lagu itu. Judul lagu itu adalah ”Hallelujah”. Penulisnya orang Kanada, Leonard Cohen, yang merilis lagu itu pada tahun 1984. Lagu yang di film Shrek 1 merupakan cover version, dinyanyikan oleh John Cale. Ternyata, sudah banyak artis yang membawakan lagu tersebut, baik untuk rekaman maupun konser.


Melihat sepintas dari judulnya orang akan mengira ini lagu rohani Kristen. Meskipun mengambil judul istilah religius, "Hallelujah" - terpujilah Tuhan - lagu ini tidak menyanyikan tentang pujian bagi Tuhan melainkan bicara seputar hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan, pengkhianatan, perselingkuhan dan perzinahan. Jadi meskipun warna musiknya merupakan gabungan waltz dan gospel (lagu gereja pada umumnya gereja protestant) lagu ini lebih sebagai lagu cinta ketimbang lagu rohani.


Berbeda dengan “Hallelujah” karya George Frederic Handel (23 February 1685 – 14 April 1759) yang teramat agung, lagu Hallelujah karya Cohen ini lebih merupakan karya satiris. Memang enak didengar, tapi sebenarnya isinya agak-agak vulgar. Setelah membaca liriknya, alis saya kembali terangkat. Persis seperti yang dituangkan dalam Wikipedia, lagu ini merujuk kepada kisah di Alkitab - Perjanjian Lama untuk dijadikan simbolisasi ide lagu. Lagu ini berlandaskan kisah raja Daud (David, in English). salah seorang penulis kitab Mazmur atau puji-pujian untuk Allah.


Kisah lainnya yang kontroversial adalah keinginan Daud untuk –memperistri- istri orang lain. Kalau pernah denger lagu ”Mad About You”nya Sting (”…It would make a prison of my life, if you become another’s wife”… ). Nah, kurang lebih seperti itulah kisah raja Daud dan kisah ini tertulis di Alkitab di 2 Samuel 11 - 12


Jadi ceritanya, pada suatu petang, raja Daud berjalan-jalan di atap istananya. Entah bagaimana desain rumah saat itu dan berapa sih jaraknya antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, akan tetapi dari atap itu, sang penguasa tersebut dapat mengintip ke rumah tetangga. Raja melihat seorang perempuan yang sangat elok rupanya sedang mandi (jadi ingat kisah Jaka Tarub? Ya, pelecehan semacam itu sudah ada dari dulu).


Tanpa takut dengan ancaman matanya bakal bintitan karena ngintip, raja malah “kepo” dengan mengirim detektif untuk menginvestigasi jatidiri perempuan itu. Singkat kata singkat cerita, didapatlah informasi bahwa dia adalah Batsyeba dan dia adalah  istri Uriah orang Het. Tidak puas dengan info itu, Daud malah mengirim ajudan untuk menjemput Batsyeba. Batsyeba datang ke tetangganya, yang tidak lain adalah rumah raja, dan ”tidur” dengan si raja.


OK, stop sampai sini dulu! Saya ngga peduli apa penafsiran orang lain, tapi dari perspektif saya, ini jelas sexual violence berbasis jenis kelamin, berbasis kelas, berbasis minoritas, dan sangat jelas kekuasaan memegang peranan besar. Kemudian Batsyeba pulang, dan beberapa waktu kemudian menyadari bahwa dirinya hamil.  Batsyeba, melalui kurir, menyampaikan berita tsb kepada raja. Raja lalu dengan strategis memerintahkan Yoab, ”Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri daripadanya, supaya ia terbunuh mati.” (2 Samuel 11:15) Untuk selanjutnya silakan baca di Alkitab – Perjanjian Lama. Intinya, ada kekerasan seksual, power over, kelicikan, dan pembunuhan.


Ini penafsiran bebas saya (once again, saya bukan ahli music bahkan saya tidak belajar teori music)

Bait pertama lagu itu berbunyi demikian :

I’ve heard there was a secret chord
That David played and it pleased the Lord
But you don’t really care for music, do you?
It goes like this
The fourth, the fifth
The minor fall, the major lift
The baffled king composing Hallelujah


Lirik lagu ini mengingatkan saya akan lagu “Lupa-Lupa Ingat”-nya Kuburan Band (yang sepertinya sudah benar – benar almarhum sekarang). Kalau lagunya Kuburan, kan: “C, A minor, B minor, ke D, ke C lagi…”. Nah kalau di lagu Hallelujah jadi  “It goes like this: the fourth, the fifth, the minor fall, and the major lift…” yang selaras dengan chord-nya F – G – Am – F. Tapi, lebih dari itu, saya juga menafsirkannya : yang submisif mengalah dan yang dominan menguasai.


Bait keduanya seperti ini :

Your faith was strong, but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to a kitchen chair
She broke your throne, she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah.


Keindahan lirik yang disusun oleh Cohen tampil di baris pertama dan kedua awal bait kedua ini.  Saya teringat dengan dua lagu Indonesia, Sabda Alam-nya Ismail Marzuki dan Kala Cinta Menggoda-nya Chrisye. The fundamental question, was that love or lust?


Nah, mengenai she cut your hair, itu bukan tentang salon yaa, berhubung sebelumnya udah membahas tokoh di Alkitab Perjanjian Lama, maka mau ngga mau saya mengkaitkannya dengan kisah Samson dan Delilah (tertulis di kitab Hakim-hakim pasal 16).  Memang agak ngga nyambung, antara Daud-Batsyeba dengan Samson-Delilah. Nah, adegan gunting rambut (tanpa  cuci-blow) itu, apa lagi kalau bukan sexual attraction (also known as “lust”) yang membuat si lelaki (Samson) lengah hingga rela membeberkan rahasia kekuatan dirinya kepada si jelita yang ternyata mata-mata. Apakah itu ketidak-berdayaan sang penguasa  menghadapi sang pujaan atau kelicikan sang “penggoda”?  Dan tokoh Matahari jaman prasejarah itu pun tidak lain hanya korban manipulasi dan ke-submisif-an posisinya, sebagai perempuan di masyarakat yang patriarkis. (Jiaaah, bahasa saya …. sophisticated bangetzz yah? Ha ha haaaaa)


Bait-bait lagu selanjutnya menggambarkan kegetiran dan ironi yang dideskripsikan sebagai “broken Hallelujah”. Selain bernafaskan erotisme dan politis, beberapa penyanyi dan penulis menafsirkan lagu ini sebagai lagu tentang relasi manusia, cinta, makna atau ketiadaan makna kehidupan, keputusasaan, ketidakberdayaan, kerapuhan, kemarahan, penderitaan, dan kesia-siaan. Dari berbagai versi lagu ini yang paling saya suka adalah yang dinyanyikan Alexandra Burke. Ironinya tetap mengiris, namun terkesan kuat.







Monday, August 17, 2015

JOGJA - A WAY BACK TO LOVE

Jogja is always special to me and I always feel a unique sense upon getting to Jogja. Its about friendship and love and feeling of peace. I feel like having soul connection with this city. One of the reasons is that couple of important turning points of my life was taking place here.

I was travelling to Jogja on this last week end for I have to obtain some documents to the civil registrar related to my personal particular papers. I was lived in Jogja for about 7 years and my daughter Kiki was born there as well so her birth certificate (one of the document I was about to endorse) was issued by civil registrar of Jogja.

Of course beside the main reason I also add some lovely excited and sorely missed plan to do while in Jogja, which are meet up my friends, eat local food, and visit some iconic photo spots

Kebun Buah Mangunan is one of the destination I was about to go. Having breakfast of local and authentic food of Jogja at the Pelataran Makam Seniman in traditional buffet style is also something interesting to do. Bubur Gudeg, Mendoan and sip Wedang Uwuh I was feeling truly Jogja …..

I happened to have lunch at Mangut Lele Mbah Marto in Nggeneng Village. What special about this eating place is that food served in the kitchen (don’t think of modern kitchen), a very traditional villager’s kitchen with firewood. Angkringan KR, in front of the head office of Kedaulatan Rakyat newspaper was also unique eating place we visited. Angkringan is small food stall, which are located at the side of many roads. The customers are various including street musicians. 

So, here are our pictures and if you enjoy these beautiful snapshot especially which were taken in Kebun Buah Mangunan, my hat's off to Ninik for her amazing touch. 

Jogja …..  My feet may leave but not my heart.



Special note to Mas Rachman, Ninik and Fitri ..... I know that 'thank you' is not enough to express my gratitude, from the bottom of my heart, again terima kasih dari ku & Kiki.

Sampai ketemu lagi yaaaa ----- peluk dari jauh



















Wednesday, June 3, 2015

MY STARWOOD JOURNEY

If life is a journey, a part of the journey is with Starwood. 

I was starting the journey in 2004 in PGFC Sheraton Surabaya and left the property in 2007, and back in 2013 in Sheraton Bandung. What I love most is the value we share in Starwood, "Bringing joy, care and excellence to associates, guests, and partners, always!"

I found passion, courage, people learn, change and grow. My role in Starwood has helped me to learn more about people and development, and to be agile, ready for changes. It is wonderful journey to learn & grow, where we treat mistakes as the opportunity to learn.

This is my journey!!  


MARRIAGE IS A DAILY LIFE

Before I continue writing, forgive me for the title of this post that may sounds like it understates the meaning of marriage. NO! It is not ...