Most of us are going through the next stage of our lives. We are at the age where we see wrinkles, grey hairs, and extra pounds. Menopause has already shown up or is just waiting around the corner.
We see the pretty 25-year old and sigh... but we were 25 too, just like they will one day be at our age. What they bring to the table with their youth and zest for life, we bring with our WISDOM, EXPERIENCES and GOOD HEARTS.
For all we've been through earning each grey hair and wrinkles - raising kids, paying bills and ills and whatever else life has thrown at us, we are survivors, we are warriors, we are women.
While our exterior may not be what it once was, it is traded for our SPIRIT, our COURAGE and our STRENGTH to enter this chapter of our lives with grace and pride for all we've been through and accomplished.
Never feel bad about getting older. I'M BLESSED BEYOND WORDS
Its been a while since my last post, and I think I need to shout out to set my soul free. There has been so much that I really need to write **smile
This inspiration came when in my workplace we celebrated the International Women's day. It came across to my mind how grateful I am to be created as a woman, and I start to count the blessings .....
Have you ever thought about the blessings of being a woman? Sometimes we just take things for granted without stopping for a while to think about very important things in our lives, that one of such important things is being a woman, and being so .....
I Am Emotional: I am free to cry and have insecurities without caring much about how others would see me. I’m better than men expressing my feelings and emotions. I get to indulge my weakness and celebrate my strengths in full glory and appreciation to what God has given me.
I Am Beautiful: All women are beautiful, no exaggeration!. Beauty is not just in our faces. Just try to know yourself and definitely you’ll get to realize where your beauty lies.
I’m More Delicate Yet, The Stronger Gender: Yes, it’s true that women are delicate, soft and tender creatures, but they are much stronger than men. Women work longer hours during their lifetime than men. Women have less leisure time, let alone pregnancy, labor and child rearing.
I Am a Mother: I’ve to admit that being a mother is not an easy job. It's 24/7 duties.
I Can Easily Make Friends: Women are better at social thinking & interactions than men, while men are more abstract and task-orientated.
I Have Female Intuition: Life experiences and scientific researches show that women have an instinctive understanding about life, love, and the dynamics of personal relationships. Women tend to be the core of family interconnectivity and the rock that supports in times of great need or sorrow. women can hear what is not being said and feel what is not being expressed.
Jatuh cinta dengan seseorang bisa berujung manis jika perasaan itu bersambut. Tetapi di era sekarang ini, apalagi di kota besar, kepahitan karena ditolak itu bisa disebabkan bukan hanya karena ngga memiliki perasaan suka yang sama, tetapi …
Saya punya seorang teman dekat yang bekerja di sebuah hotel bintang lima international di Jakarta. Usianya sudah dewasa, posisinya cukup tinggi, sebagai seorang executive commitee. Saya ngga tahu musti kasihan atau kasih sedikit masukan dalam urusan hati, tapi dia sering sekali salah jatuh cinta. Saya ingat beberapa tahun lalu dia bilang suka dengan beberapa laki-laki. Usut punya usut, semua laki-laki yang dia sukai itu penyuka sesama jenis.
“Aku ngga tahu mereka gay, mereka kelihatan straight banget,” kata teman saya itu, waktu beberapa teman lain mentertawakan kondisinya. Hmmm, ngga layak juga sih ditertawakan, karena yang pasti dia kemudian merasa bodoh. “Kamu ngga bodoh, kamu cuma ngga tahu aja,” kata saya mencoba kasih pengertian dan simpati. Itu maksud saya. Kita ngga bisa milih untuk jatuh cinta dengan siapa. The heart wants what it wants.
Pesona seseorang biasanya emang jadi alasan pertama kita suka dengan mereka. Beberapa tahun lalu mungkin ‘ditolak' itu hanya berarti antara laki-laki dan perempuan (yang heteroseksual) maka jaman sekarang tautannya semakin rumit. We can't resist someone's charm. Itu juga yang jadi alasan bagaimana kita bisa menyukai seseorang. Charm atau pesona itu bisa dalam bentuk apa aja, physical, attitude, behavior, sampai isi otak.
Sementara itu teman yang lain minta pendapat saya tentang mantannya yang juga dia duga adalah laki-laki homoseksual. Dia curhat betapa dia pengin agar laki-laki itu lebih baik mengakui semuanya. “Semua teman-teman gue yang gay udah confirm kalau dia memang gay, nah kok gue masih deny ya?” tanya teman saya itu (yang lebih tepatnya rhetorical question ke dirinya sendiri). “Kenapa gue susah banget percaya kalau dia gay?”
Bagi mereka yang lahir dari keluarga yang konservatif, menjadi homoseksual sama seperti memiliki bom waktu dalam diri sendiri. Banyak yang akhirnya mengakui pada keluarganya bahwa mereka adalah penyuka sesama jenis dan berujung penolakan, sampai pengusiran. Dengan alasan takut atas penolakan, pengusiran, sampai ngga mau mengecewakan orang tua maka mereka lebih memilih untuk menyimpan semuanya selama bertahun-tahun. Beban yang hanya mereka rasakan sendiri (mungkin juga mereka bagikan ke teman-teman terdekat), and it's never been easy.
Menjadi gay atau homoseksual menurut penelitian bukanlah penyakit fisik maupun mental. Bukan pula fenomena atau anomali. Pro kontra akan keputusan sebagian orang untuk menerima dan hidup sebagai homoseksual ngga akan pernah selesai. Hal ini pula yang ‘memaksa' banyak kaum penyuka sesama jenis bertahan dengan identitas ‘normal' mereka dan mencari kemerdekaan sebagai homoseksual di momen-momen dan tempat khusus di mana mereka bebas menjadi diri mereka sendiri.
Di film “De Lovely” yang dibintangi oleh Kevin Kline dan Ashley Judd tema laki-laki gay yang memutuskan untuk menikah diceritakan dengan indah sekaligus sedih. Film yang diangkat dari kisah nyata Cole Porter, seorang pencipta lagu Amerika Serikat di era 1950an. Cole menikahi teman baiknya, Linda, yang sebenarnya tahu bahwa ia adalah laki-laki penyuka sesama jenis. Tapi perempuan itu mencoba menerima keadaan itu dan menjalani pernikahan mereka seperti biasa, karena Cole pun terlihat cukup serius ingin menjadi suaminya. Di akhir hayatnya Linda justru menugaskan seorang laki-laki muda untuk menjaga Cole setelah kepergiannya. Meski di era itu Cole juga menjalani kehidupan homoseksualnya di bawah radar lingkungan sosial tapi keadaan itu terus berjalan bahkan selama ia menikah dengan Linda.
Penerimaan yang dilakukan Linda hanya bisa dilakukan oleh sebagian orang. Yang dirasakan oleh Linda selama pernikahannya dengan Cole mungkin bukan cinta dalam arti sebenarnya. Film “De Lovely” menggambarkan pasangan Cole dan Linda sebagai dua orang yang menyayangi satu sama lain, melewati batas pemahaman identitas dan orientasi seksual. Cole adalah laki-laki dengan orientasi seksual yang tinggi pada sesama jenis, sementara pernikahan membuatnya kemudian melakukan hubungan seksual dengan istrinya, Linda.
Coming out, atau memberi tahu lingkungan kita bahwa kita memiliki orientasi seksual yang berbeda membutuhkan keberanian dan pemahaman akan risiko yang menyusul kemudian. Seperti yang saya paparkan sebelumnya, akhirnya banyak yang memilih untuk menjalani hidup ‘normal' dan mencari kebebasan menjadi diri sendiri di saat-saat tertentu saja.
Seorang teman saya, dia homoseksual, dan sudah terbuka dengan lingkungannya tentang orientasinya berpendapat laki-laki homoseksual yang menikah itu setiap hari makan hati. Kecewa karena dia ngga bisa mengaktualisasikan dirinya sendiri. Kecewa karena harus menikah dan berkeluarga (karena, menurut teman saya, kalau bisa mungkin laki-laki homoseksual juga lebih memilih untuk bersama laki-laki homoseksual). Semua kebebasannya dirampas.
But guess what, ngga sedikit kaum homoseksual yang menginginkan anak di tengah-tengah hubungan sesama jenis yang sedang mereka jalani. Barangkali ini yang membuat sebagian dari mereka cukup ‘berani' untuk menikah dengan benar-benar memiliki anak. Bukan dari proses adopsi. Mereka mencari kebahagiaan dari memiliki anak yang benar-benar lahir dari rahim seorang perempuan. Tapi juga menyimpan beban dengan pernikahan yang sebenarnya jauh dari pikiran mereka.
Semuanya memang masalah aktualisasi diri. Kebahagiaan yang kita cari kita yang tentukan. Hidup yang buat orang-orang tertentu sangat rumit, bagi kita mungkin sebenarnya cukup sederhana. Hidup yang sederhana mungkin artinya adalah mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya karena hanya itu satu-satunya cara untuk mengaktualisasikan diri. Tapi hidup sederhana mungkin juga berarti menjalani hidup sama seperti orang ‘normal' lainnya di luar sana, yang berarti malah menyembunyikan identitas kita sebenarnya, karena orang-orang ngga siap dengan perbedaan yang kita punya.
Ditolak karena dia ternyata juga menyukai laki-laki. Pahit? Mungkin. Konyol? Mungkin. Kamu ngga akan mendapatkan kepastian sampai kamu sendiri yakin bahwa dia sesuai pikiranmu, atau malah tidak. Want to keep on chasing pavement? Menjadi bimbang sendiri? Jangan sampai.
Tapi jika situasinya adalah sedang berada di sebuah pernikahan yang sedang mengalami kebimbangan, dan merasakan ada yang 'ngga biasa' dengan pasangan, make your move!. Ingin menjadi Linda yang bisa dan mau berusaha untuk menerima kekurangan pasanganmu, dan menjalani pernikahan seperti yang kalian cita-citakan bersama? Menghargai dia karena terlepas dari semua kekurangannya, karena dia adalah laki-laki yang sedang berusaha menjadi kepala keluarga yang baik?
Atau ambil jalan lain. Mengembalikan kesadaran kamu sepenuhnya bahwa sampai kapanpun pikirannya ngga akan sepenuhnya untuk kamu. Hidup dengan ketakutan karena kuatir suatu hari nanti dia akan meninggalkanmu, demi laki-laki lain. Terjebak memang ngga enak, apalagi dalam situasi seperti ini.
If you meet someone and you feel likely that you're going to fall for them? Find out who they are, think logic, and LOVE logically
Christmas is not about the christmas tree, decorations or Santa Clause. They're only products for commercial in this materialistic world.
Christmas is all about Jesus. HE was born, sent to the sinful world so that we can be saved. HE was born for you and me. That's the greatest love of all. Christmas is about love declaration of God to human being. Love which enables us to love, respect, care and support others
In HIS steadfast love, HE sent me this beautiful angel, Kiki, as the special gift to accompany me along the journey on this sometimes bumpy road called life.
May the love, Joy and Peace poured abundantly upon you and your family
A birthday is always special to me. Its a day to celebrate ME and my entrance into the world. I always make sure to remember peoples' birthdays and to say something or give them a card. I like people to feel special and loved on their birthday. Wishing them some happiness and love today, on their special day.
When I was a child that event's special because I received lot of gifts but after and as an adult because I am around people that care about me and love me
On the top of that, I use it as a day to reflect on all of my many blessings and be grateful that I can celebrate.
My dear friends, I Thank you so much for the kind birthday wishes. You helped making it a very happy birthday. I don’t think of it as being another year older. I think of it as another year of having enjoyed friends like all of you. I deeply appreciate it . Thank you.... much much love!!
Thanks very much for the wonderful feelings you gave me on this special day and made it the most memorable birthday of my life. God bless you!!
Special notes to : Anung : thanks for lending me your vintage Vespa. It brings my memory back to the time when I was in Junior High School. Severin : thanks for the beautiful birthday cake, you know how to make me feel special. Lintang : thanks for taking me around the hotel with Vespa. Roberto : thanks for making that cute overload pose. You never fails to crack me up
I
was talking about knowing things to do but do not really want to do it in fact.
I kind of promise that I will continue to talk about it, and It’s a bit sad knowing that I posted that on
March 3 2016, and I am now just typing to continue my writes
Ups!
So long, in fact that’s too long for a write up. Sorry, I was just too busy on
the work and (again. Sorry!) I was just too lazy. Aha!!
COMFORT,
was one topic that I brought up as a cause why people don’t really do what they
already knew they have to do. We are too afraid or too comfortable to leave our
comfort zone. Change is good, but frankly speaking, its scary as well, too much worries
The
second thing is GOAL. What about it?
I
took a Mandarin class couple years back, it was just because in the city like
Surabaya with huge Chinese community, ability of speaking Mandarin is a plus in
person qualification. Its interesting , while in my daily work, speaking
Mandarin is not needed at all, Mandarin proficiency is not much needed in the
field I am into. So, long story short, I went through the course in full spirit
in the first week, but when dealing with the difficulty of writing Mandarin
letters (Chinese Pin Yin), I gave up.
Why?
Because I do not have a clear goal of doing this thing. Clear goal or target is an energy we need to fight when dealing with struggles / barrier or obstacles. I could not find the
important points of speaking Mandarin incorporated it to my
daily work. I can only speak little bit in Mandarin just because of growing up in Chinese family. Well, to some people to sacrifice their time to learn something new
is good, but to me in this kind of thing, especially in learning Mandarin,
aaah, I just don’t like it. AHA!
It
leads me to the third thing I’m gonna talk about, PREFERENCE
I
love to read and sing. Reading and singing are never boring to me, its always
bring joy and cheerfulness. Find things you like, and get into it. By having it
we can go on and on joyfully. I do not have to think whether or not they will
be useful in work or daily life, I just like it, I love it.
We
know we have to do things but do not want to do it well. Check those three
items : COMFORT, GOAL, PREFERENCE
What
about living a healthy life, go on a diet, do exercise? Those are all must do
things. Get out of our comfort zone? Aaaah, big NO, fighting a battle of laziness,
aaah no no no (Hey, this has already been my constant battle hahaaaa). We don’t want to loose the battle (of course), but how many time we fail, we know how the guilty feeling will ruin us. But the show
must go on, life must be lived healthy and well
I
make a peace of myself. I accept my self the way I am and forever thankful of this curvy body GOD has entrusted to me. I do what I like to do in align that
with a healthy living style. I do walking, I eat what I like but I limit it, I
sing and never stop practicing to strengthen my diaphragm muscle. I do it in a
pleasant way, and I go on
“Why don’t I do what I know I should do?” - Ever asked
yourself that question?
Most of the time, we all know what we need to do things in
order to attain our goals. That’s not the issue. We know what needs to be done.
We just don’t do it. Why is it so hard to do what we must do to succeed, if we
really want to succeed?
Perhaps we don’t want it THAT BAD?
That’s probably the case. We may tell ourselves we want to
succeed, but if we cannot do whatever it may be to get there, then we don’t
really desire it. We are not “hungry” enough. We want it, just not bad enough.
So what causes this?
COMFORT
My mother always said, “Don’t be TOO comfortable, otherwise,
you stop advancing”. It’s true. When we are in a position where we are
comfortable & safe, it is extremely hard to get ourselves to move out of
this “zone”. After all, it is human nature to seek comfort. Even if we may be
looking at even more comfort with the added success, we are just not willing to
give some of that current comfort to get there.
I have a friend who was looking into starting her own
business. She had a great idea, good plans, and was pretty much ready to go.
However, she needed to go at it full time. Therefore, she had to leave her
current job, and she didn’t have a problem with that. The problem was, with the
lack of money she would find herself with for the next year or so. You see, for
her, she couldn’t give up her shopping, her nights out, her fancy suppers, etc.
to fund her business. She was not willing to give part of her comfort to
ultimately gain more later on. Yes, she wanted to do this business. She
understood that in the long run, owning your own business is more beneficial
than her current situation. However, she obviously did not want it bad enough.
Because if she would have, she wouldn’t have a problem giving up some of her
current perks to eventually gain much bigger ones.
Also, the fear of change & being stuck in a routine can
destroy our motivation to move ahead. It’s like stepping into the unknown, and
yes, we naturally do not like this. However, the quicker we understand that
evolving is necessary for success, the easier it will be for us to get
ourselves to do what we need to get done. Just know that we can adapt to any
new situation. Humans are made to be this way. This is why we can live in very
hot or very cold weather for example. We have a tremendous ability to adapt, so
keeping that in mind eases the perception of change.
25 years after my high school graduation, we are all invited to REUNI PERAK - SMAGA batch 1990 in Kediri, my hometown, last December. I and Kiki flew to Kediri and spent our Christmas and year end holidays, while I attended my high school reunion
We stayed at one of the hotels in the city, and I didn't visit my childhood house this time, just paid a visit to my parents grave
Well, whether we like it or not, we are all like to be connected to our teenage years in some way. High school friends bring that connection. When you reconnect with a high school friend it is like nothing has ever changed. It could be the “group” you belonged to, or that you saw each other literally for seven times a day, or the sports you played. With your high school friends you get back into the swing of things in a millisecond.
I wanna share our (what I called) flowery weekend escapade on the first week of December last year. It's a bit late post though but its too bad for not sharing the beauty of those flowers, or the beauty of us in these pictures, ha ha haaa just saying
It was happen when Kiki had her year end holiday and spent her time in Bandung and of course that this flower garden is so well known and become the hot topics of one of the sceneric photo spots, we have planned to go there
If life is a flower, then love is the beauty of that flower. Enjoy viewing and happy weekend!
Hasil berselancar di Youtube membawa saya kepada klip film
Shrek. (Just for your information, saya hanya suka nonton film yang realistic. Drama,
true story or whatever that is related to daily life, bukan film “khayal”. Science fiction atau film animasi atau film
tokoh – tokoh Marvel sama sekali bukan film favorite saya, apalagi Shrek,
kecuali Anda butuh teman menonton film film semacam itu, for the sake of
friendship, saya akan bersedia duduk (mungkin tertidur) disamping Anda selama
Anda nonton ha ha haaa …)
Klip tiba di bagian dimana putri Fiona
mengepas baju pengantin dengan ekspresi wajah tertekan. Adegan itu dilatari sebuah lagu yang dilantunkan
dengan gaya sendu diseret-seret. Kegetiran putri Fiona bertambah menusuk dengan
latar belakang lagu itu. Waktu itu saya ngga tahu liriknya. Bahasa Inggris saya
ngga kelewat jelek juga sih, tapi ketika lagu itu dibawakan secara setengah
menggumam, saya musti benar – benar pasang kuping dan menyimak, bahkan sempat
membayangkan, vokalisnya menyanyi dengan sebatang cerutu digigit di antara
geraham, yang saya tangkap hanya ada kata “Halleluya”
Naah, lagu inilah yang bikin saya “mendadak cinta” dan ingin saya
share pemikiran saya tentang itu. Biasalah, kalau lagi suka banget dengan
sesuatu saya pasti akan berusaha mencari tahu lebih dalam (alias kepo). Saya
bukan penulis lagu, bukan musician plus ngga pernah belajar musik, dan ngga
ngerti teori musik Saya hanya terbius oleh lagu ini dan menyanyikan-nya (mungkin) sudah ratusan kali (dikamar saya, tentunya)! Tapi jika Anda mau, saya akan dengan
senang hati alias girang banget menyanyikan lagu ini utk Anda. Percayalah, suara
saya ngga jelek jelek amat. Jadi, apa yang saya tulis disini adalah hasil
penelusuran saya plus penalaran a la kadarnya ditambah daya khayal saya yang kadang agak
kebablasan … ha ha haaaa
Saya terdorong untuk mencari si soundtrack dan informasinya
karena beberapa hari kemudian, lagu itu “mendadak dangdut” berdendang-dendang
sendiri di kepala saya. Dan seperti biasa, setelah menyimak (puluhan kali) di
Youtube, saya search di Wikipedia yang tentu saja “memuntahkan” informasi yang
cukup lengkap ditambah beberapa blog yang berkontribusi hingga saya mendapat
informasi (hampir lengkap) tentang lagu itu. Judul lagu itu adalah
”Hallelujah”. Penulisnya orang Kanada, Leonard Cohen, yang merilis lagu itu pada
tahun 1984. Lagu yang di film Shrek 1 merupakan cover version, dinyanyikan oleh
John Cale. Ternyata, sudah banyak artis yang membawakan lagu tersebut, baik untuk
rekaman maupun konser.
Melihat sepintas dari judulnya orang akan mengira ini lagu
rohani Kristen. Meskipun mengambil judul istilah religius, "Hallelujah" - terpujilah Tuhan - lagu ini tidak menyanyikan
tentang pujian bagi Tuhan melainkan bicara seputar hubungan percintaan antara
laki-laki dan perempuan, pengkhianatan, perselingkuhan dan perzinahan. Jadi
meskipun warna musiknya merupakan gabungan waltz dan gospel (lagu gereja pada
umumnya gereja protestant) lagu ini lebih sebagai lagu cinta ketimbang lagu
rohani.
Berbeda dengan “Hallelujah” karya George Frederic Handel (23
February 1685 – 14 April 1759) yang teramat agung, lagu Hallelujah karya Cohen
ini lebih merupakan karya satiris. Memang enak didengar, tapi sebenarnya isinya
agak-agak vulgar. Setelah membaca liriknya, alis saya kembali terangkat. Persis
seperti yang dituangkan dalam Wikipedia, lagu ini merujuk kepada kisah di Alkitab
- Perjanjian Lama untuk dijadikan simbolisasi ide lagu. Lagu ini berlandaskan
kisah raja Daud (David, in English). salah seorang penulis kitab Mazmur atau
puji-pujian untuk Allah.
Kisah lainnya yang kontroversial adalah keinginan Daud untuk –memperistri-
istri orang lain. Kalau pernah denger lagu ”Mad About You”nya Sting (”…It would
make a prison of my life, if you become another’s wife”… ). Nah, kurang lebih
seperti itulah kisah raja Daud dan kisah ini tertulis di Alkitab di 2 Samuel 11
- 12
Jadi ceritanya, pada suatu petang, raja Daud berjalan-jalan
di atap istananya. Entah bagaimana desain rumah saat itu dan berapa sih
jaraknya antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, akan tetapi dari atap
itu, sang penguasa tersebut dapat mengintip ke rumah tetangga. Raja melihat
seorang perempuan yang sangat elok rupanya sedang mandi (jadi ingat kisah Jaka
Tarub? Ya, pelecehan semacam itu sudah ada dari dulu).
Tanpa takut dengan ancaman matanya bakal bintitan karena
ngintip, raja malah “kepo” dengan mengirim detektif untuk menginvestigasi
jatidiri perempuan itu. Singkat kata singkat cerita, didapatlah informasi bahwa
dia adalah Batsyeba dan dia adalah istri
Uriah orang Het. Tidak puas dengan info itu, Daud malah mengirim ajudan untuk
menjemput Batsyeba. Batsyeba datang ke tetangganya, yang tidak lain adalah
rumah raja, dan ”tidur” dengan si raja.
OK, stop sampai sini dulu! Saya ngga peduli apa penafsiran
orang lain, tapi dari perspektif saya, ini jelas sexual violence berbasis jenis
kelamin, berbasis kelas, berbasis minoritas, dan sangat jelas kekuasaan
memegang peranan besar. Kemudian Batsyeba pulang, dan beberapa waktu kemudian
menyadari bahwa dirinya hamil. Batsyeba,
melalui kurir, menyampaikan berita tsb kepada raja. Raja lalu dengan strategis
memerintahkan Yoab, ”Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang
paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri daripadanya, supaya ia terbunuh
mati.” (2 Samuel 11:15) Untuk selanjutnya silakan baca di Alkitab – Perjanjian Lama.
Intinya, ada kekerasan seksual, power over, kelicikan, dan pembunuhan.
Ini penafsiran bebas saya (once again, saya bukan ahli music
bahkan saya tidak belajar teori music)
Bait pertama lagu itu berbunyi demikian :
I’ve heard there was a secret chord
That David played and it pleased the Lord
But you don’t really care for music, do you?
It goes like this
The fourth, the fifth
The minor fall, the major lift
The baffled king composing Hallelujah
Lirik lagu ini mengingatkan saya akan lagu “Lupa-Lupa
Ingat”-nya Kuburan Band (yang sepertinya sudah benar – benar almarhum
sekarang). Kalau lagunya Kuburan, kan: “C, A minor, B minor, ke D, ke C lagi…”.
Nah kalau di lagu Hallelujah jadi “It
goes like this: the fourth, the fifth, the minor fall, and the major lift…” yang
selaras dengan chord-nya F – G – Am – F. Tapi, lebih dari itu, saya juga
menafsirkannya : yang submisif mengalah dan yang dominan menguasai.
Bait keduanya seperti ini :
Your faith was strong, but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to a kitchen chair
She broke your throne, she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah.
Keindahan lirik yang disusun oleh Cohen tampil di baris
pertama dan kedua awal bait kedua ini. Saya
teringat dengan dua lagu Indonesia, Sabda Alam-nya Ismail Marzuki dan Kala
Cinta Menggoda-nya Chrisye. The fundamental question, was that love or
lust?
Nah, mengenai she cut your hair, itu bukan tentang salon yaa,
berhubung sebelumnya udah membahas tokoh di Alkitab Perjanjian Lama, maka mau
ngga mau saya mengkaitkannya dengan kisah Samson dan Delilah (tertulis di kitab
Hakim-hakim pasal 16). Memang agak ngga nyambung,
antara Daud-Batsyeba dengan Samson-Delilah. Nah, adegan gunting rambut (tanpa cuci-blow) itu, apa lagi kalau bukan sexual
attraction (also known as “lust”) yang membuat si lelaki (Samson) lengah hingga
rela membeberkan rahasia kekuatan dirinya kepada si jelita yang ternyata
mata-mata. Apakah itu ketidak-berdayaan sang penguasa menghadapi sang pujaan atau kelicikan sang
“penggoda”? Dan tokoh Matahari jaman
prasejarah itu pun tidak lain hanya korban manipulasi dan ke-submisif-an
posisinya, sebagai perempuan di masyarakat yang patriarkis. (Jiaaah, bahasa saya
…. sophisticated bangetzz yah? Ha ha haaaaa)
Bait-bait lagu selanjutnya menggambarkan kegetiran dan ironi
yang dideskripsikan sebagai “broken Hallelujah”. Selain bernafaskan erotisme
dan politis, beberapa penyanyi dan penulis menafsirkan lagu ini sebagai lagu
tentang relasi manusia, cinta, makna atau ketiadaan makna kehidupan,
keputusasaan, ketidakberdayaan, kerapuhan, kemarahan, penderitaan, dan kesia-siaan.
Dari berbagai versi lagu ini yang paling saya suka adalah yang dinyanyikan Alexandra
Burke. Ironinya tetap mengiris, namun terkesan kuat.